Perihal: Dugaan Pelabelan Tidak Berdasar & Perlakuan Tidak Adil Terhadap Ananda Atthaya di Sekolah

πŸ“… KRONOLOGIS PERISTIWAhttps://Burusergapinfo.asia

Rabu, 22 Juli 2026 β€” Pertemuan Awal dengan Wali Kelas

Wali Kelas memanggil saya dan menyampaikan dugaan Ananda Atthaya mengalami gangguan konsentrasi/ADHD, merujuk pengalaman beliau di SLB serta menyebut ada anak autis lain di kelas. Disarankan melakukan tes IQ di RSJ dengan estimasi biaya Β±Rp200.000,- dan melatih menulis di rumah. Saya menyampaikan: di rumah Atthaya selalu menyelesaikan tugas menulis, namun respon beliau kurang yakin. Juga disampaikan Bapak Atthaya sering keluar kota, padahal beliau pulang rutin tiap Rabu dan kerabat dekat tinggal di lokasi.

Kamis–Sabtu, 25–26 Juli 2026 β€” Pemeriksaan & Konsultasi Psikolog

Senin–Senin, 28 Juli–3 Agustus 2026 β€” Penyampaian Hasil Tes ke Sekolah

Baru dapat bertemu Wali Kelas pada Senin, 3 Agustus 2026. Saya sampaikan hasil tes IQ 94 β€” dalam rentang normal. Saya juga menyatakan keberatan jika anak saya disetarakan dengan kebutuhan khusus layanan SLB.

Reaksi Wali Kelas: tetap bersikeras bahwa pengalaman beliau di SLB menunjukkan perilaku Atthaya serupa anak dengan gangguan konsentrasi, lalu memanggil Guru Bahasa Inggris (Bpk. Hendro). Beliau memperagakan ekspresi wajah seakan Atthaya berkelainan, menyebut anak “naik kelas bersyarat” β€” padahal saya TIDAK pernah diberitahu hal ini sebelumnya. Juga dinyatakan: “tes hanya 1–2 jam, sementara kami mendampingi dari pagi”. Fakta: Kamis berikutnya Atthaya mulai menulis dan menyelesaikan tugas, meskipun konsentrasi masih terbatas. Namun pelabelan negatif tetap melekat.

Kamis–Jumat, 6–7 Agustus 2026 β€” Penempatan & Insiden di Sekolah

Senin, 11 Agustus 2026 β€” Konsultasi ke UPTD

Bertemu Bapak Dedi; dijadwalkan bertemu Ibu Meryance. Pertemuan dilakukan dan beliau menyarankan mediasi melalui Dinas Pendidikan. Namun saya menyatakan keinginan menyelesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu dengan Kepala Sekolah.

Senin, 17 Agustus 2026 β€” Bertemu Kepala Sekolah

Dijadwalkan pertemuan dengan Kepala Sekolah beserta guru terkait pada Jumat, 21 Agustus 2026. Namun sebelumnya beredar kabar: pihak sekolah menyebut saya menolak penempatan karena meja rusak β€” padahal keluhan saya hanya soal kondisi meja yang rusak, BUKAN menolak penempatan. Hal ini memutarbalikkan maksud saya.

Jumat, 21 Agustus 2026 β€” Pertemuan dengan Kepala Sekolah & Guru Terkait

Dalam pertemuan: tidak ada permintaan maaf maupun pengakuan kesalahan dari kedua guru. Pihak sekolah justru memanggil psikolog untuk menilai Atthaya. Kami merasa: anak sudah terlanjur dicap negatif, kabar berputar-putar, dan anak kini TIDAK SEKOLAH sudah Β±2 minggu akibat ketidaknyamanan tersebut. Juga diberitakan anak “melawan guru” β€” padahal menurut psikolog: Atthaya memiliki kecerdasan verbal tinggi namun belum mampu merangkai kata dengan baik saat emosi; bukan melawan, melainkan belum terampil menyampaikan pendapat.

Senin, 24 Agustus 2026 β€” Keputusan Melapor ke Dinas Pendidikan

Karena tidak ada jalan penyelesaian maupun tanggapan yang memuaskan, kami berniat membawa perkara ke Dinas Pendidikan guna mendapat penyelesaian adil. Sampai saat ini belum ada kejelasan.

βš–οΈ POKOK-POKOK KELUHAN

1. Pelabelan tidak berdasarkan data: Anak dicap berkelainan/ADHD sebelum ada hasil pemeriksaan. Hasil tes IQ: 94 (Normal), psikolog juga belum mengindikasikan ADHD.
​
2. Informasi tidak disampaikan secara transparan: Status “naik bersyarat” tidak pernah diberitahukan kepada saya β€” wali murid sah yang selalu hadir pengambilan rapor.
​
3. Perlakuan yang merendahkan dan memisahkan: Duduk di meja guru memisahkan anak dari lingkungan teman. Ekspresi dan perkataan guru merendahkan di hadapan pihak lain.
​
4. Ucapan yang memicu pengucilan: “tidak usah berteman dengannya” β†’ memicu isolasi sosial terhadap anak.
​
5. Pemutarbalikan fakta: Keluhan kondisi meja rusak dijadikan alasan bahwa saya yang menolak penempatan β€” menyesatkan.
​
6. Cap “melawan guru” belum sesuai penjelasan psikolog: Kecerdasan verbal tinggi belum berarti kemampuan ekspresi lisan matang β€” perlu dibedakan dari pembangkangan.
​
7. Dampak nyata: Anak merasa tidak nyaman, sudah Β±2 minggu tidak bersekolah, perkembangan sosial dan belajar terganggu.

βœ… TUJUAN & HARAPAN KAMI

1. Menghentikan pelabelan negatif yang tidak berdasar kepada Ananda Atthaya.
​
2. Penjelasan resmi dan tertulis terkait status kenaikan kelas dan dasar penilaiannya.
​
3. Pertemuan mediasi yang netral β€” tanpa memutarbalikkan fakta atau menambah penilaian subjektif.
​
4. Kenyamanan bersekolah: Penempatan wajar di antara teman, bukan di posisi yang memisahkan.
​
5. Pendekatan pendidikan yang memahami karakter anak: Kecerdasan verbal tinggi memerlukan bimbingan ekspresi, BUKAN dicap bermasalah.
​
6. Kami tidak menginginkan sanksi terhadap guru, melainkan kesepahaman agar ke depan penilaian terhadap siswa lebih objektif dan tidak merendahkan. Jika mediasi sekolah belum membawa hasil, mohon bantuan Dinas Pendidikan memfasilitasi penyelesaian secara adil.

diterbitkan oleh

kantor redaksi burusergaoinfo.asia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *